Thursday, December 26, 2013

Hotel 1.000 Kamar Bakal Dibangun di Lembah Anai Sumatera Barat

http://us.images.detik.com/content/2013/12/24/1016/lembahanai.jpg
Jakarta -Riyadh Group akan menggarap properti Anai Golf & Mountain Resort yang berlokasi di Lembah Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Untuk tahap pertama, pengembangan proyek tersebut akan menyedot investasi sekitar Rp 1,5 triliun yang akan digarap selama lima tahun.

"Industri pariwisata di Sumatera Barat semakin membaik seiring pertumbuhan ekonomi nasional. Lokasi wisata di Lembah Anai ini juga akan menjadi destinasi utama pariwisata di Sumatera Barat," papar Presiden Direktur Riyadh Group, Bally Saputra, dalam keterangan tertulis, Selasa (24/12/2013).

Rencananya, proyek ini akan dilengkapi hotel berkapasitas 1.000 kamar sertaconvention hall yang mampu menampung 5.000 orang. "Nantinya kapasitas tampung hotel-hotel di sekitar Lembah Anai juga akan ikut kecipratan untuk menampung limpahan arus pengunjung," papar Bally.

Bally optimistis bahwa industri pariwisata (Meeting, Incentive, Conference, Exhibition/MICE) atau wisata konvensi di Sumatera Barat bakal moncer di masa mendatang.

"Saat ini Sumatera Barat sudah masuk 10 besar lokasi tujuan utama industri wisata konvensi. Dengan pertumbuhan industri wisata MICE sebesar 20% di tanah air, saya yakin potensi wisata konvensi di Sumatera Barat akan tumbuh pesat," ujarnya.

Luas area pariwisata terpadu ini mencapai 400 hektar, terletak di kaki Gunung Tandikat pada ketinggian 600 hingga 700 m di atas permukaan laut.

Sementara itu, Founder PT Andalas Anaipermai International, Siswono Yudo Husodo menyatakan, Sumatera Barat sangat layak untuk menjadi salah satu destinasi pariwisata nasional kedua setelah Pulau Bali

"Saat ini trafik kunjungan wisatawan di dunia luar biasa besar. Sumatera Barat memiliki sumber daya yang memadai sebagai lokasi tujuan pariwisata setelah Bali. Karakteristik arsitektur, seni, serta kuliner yang ada di Sumatera Barat punya keunggulan yang bisa menyedot wisatawan asing," tutur Siswono.

Menurut Siswono, Lembah Anai sebagai destinasi utama pariwisata di Sumatera Barat juga sudah didukung sepenuhnya oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.

"Saya sudah bertemu Gubernur Sumatera Barat, dan beliau mengapresiasi gagasan menyulap Lembah Anai sebagai lokasi wisata yang menawan," kata dia.

Saat ini, Anai Golf & Mountain Resort dilengkapi dengan lapangan golf 18 holes sepanjang 6.270 meter dan Par 73 Design by Thomson, Wolveride & Perrett Australia. Juga Club House yang dilengkapi restoran camping ground, fasilitas outbound, serta hutan arboretum seluas 40 hektare yang sudah dilengkapi beragam jenis tanaman tropis.

Adhi Karya Buka Bisnis Hotel di Medan, Bekasi, dan Blok M

http://us.images.detik.com/content/2013/11/30/1016/adhi3.jpg
Jakarta -Tahun depan, PT Adhi Karya Tbk akan meresmikan 2 dari 3 hotel yang telah dibangun tahun ini. Hotel yang diberi nama Grandika itu nantinya akan dikelola sendiri BUMN konstruksi ini.

"Kita akan arsiteki sendiri dan kelola sendiri melalui divisi perhotelan 3 hotel Grandika yang kita bangun di Medan, Bekasi, dan Blok M (Jakarta Selatan)," tegas Direktur Utama Adhi Karya Kiswodarmawan di Kantor Pusat Adhi Karya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (30/11/2013).

BUMN ini mempunyai anggaran resmi untuk pengembangan bisnis properti di tahun 2014. Setidaknya Rp 400 miliar lebih bakal dikucurkan untuk membangun banyak proyek properti termasuk penyelesaian 3 hotel ini. Kiswo optimistis, 2 dari 3 hotel akan segera diresmikan Desember 2014.

"Izin pembangunan Blok M sudah ada dan kita sudah konstruksi, sedangkan untuk tahap launching kita harapkan di Desember 2014. Medan konstruksi sudah dan sama Desember kami akan buka. Bekasi itu karena nanti di bawah kita jadikan mal 3 lantai, tetapi tidak bisa tahun depan selesainya. Ini semuanya tanahnya Adhi sendiri," imbuhnya.

Jadwal pembangunan dan peresmian diakui Kiswo molor dari perencanaan awal. Sulitnya mendapatkan izin membuat proyek pembangunan 3 hotel ini sempat mandek dan jalan di tempat.

"Konsennya memang ada di izin. Hotel mau selesai tahun ini tetapi perizinan sulit. Perizinan baru selesai tahun ini seperti Medan, Bekasi, dan Blok M," katanya.

Kiswo tahu benar, bisnis perhotelan adalah bisnis yang menguntungkan. Pasar yang besar di Indonesia, membuat Adhi Karya optimistis pendapatan perusahaan bakal meningkat di tahun mendatang.

"Kebutuhan marketnya tinggi. Dari bisnis hotel itu budget sangat tinggi. Jadi bisnis hotel ini gila benar," sahutnya.
(wij/dnl) 

BUMN Ini Segera Rampungkan Hotel Bintang 3 di Cawang

http://us.images.detik.com/content/2013/12/19/1016/140839_adhi.jpeg
Jakarta -PT Adhi Karya Tbk (ADHI) tengah merampungkan penggarapan hotelnya di kawasan Cawang, Jakarta Timur. Saat ini, pembangunan proyek tersebut sudah sampai tahap topping off.

Corporate Secretry Perseroan Amrozi Hamidi mengatakan, pihaknya telah mendapatkan nilai kontrak sebesar Rp 61,4 miliar untuk menggarap proyek ini.

"Kita dapat kontraknya Rp 61,4 miliar untuk bangun hotel Ibis di Cawang. Lokasinya sebelahnya BNN. Hari ini sudah topping off," kata Amrozi saat dihubungi detikFinance di Jakarta, Kamis (19/12/2013).

Dia menjelaskan, hotel ini termasuk ke dalam hotel bintang 3. Hotel yang dibangun di lahan seluas 12.141 meter persegi ini terdiri dari 12 lantai, 260 kamar dengan 1 basement.

"Kita ada 12 lantai, kira-kira 360 kamar, dan ada 1 basement," ujar dia.

Dia menargetkan, pembangunan hotel ini akan selesai di bulan Maret tahun depan dan rencananya di bulan Juni 2014 akan mulai beroperasi.

"Kita bisa mempercepat pembangunan. Jadwalnya akhir Januari tahun depan baru topping off tapi ternyata sekarang sudah bisa. Akhir Maret tahun depan targetnya selesai jadi bulan Juni sudah beroperasi," tandasnya.

Thursday, December 19, 2013

Sunset di Bukit Parang Endog, Yogya Memang Istimewa

Matahari senja menyambut kedatangan kami di Parang Endog
Matahari senja menyambut kedatangan kami di Parang Endog

Sejumlah penikmat alam menyakdikan sang surya tenggelamSaya dan dia, menyaksikan fenomena alam yang luar biasaSampai jumpa esok pagi, Matahari!!!

detikTravel Community -  
Mencari sunset indah di Yogyakarta untuk libur akhir pekan atau akhir tahun? Cobalah ke sisi timur Pantai Parangtritis. Di sana ada Pantai Parang Endog dengan bukit untuk melihat sunset yang istimewa.

Menyaksikan matahari tenggelam di ufuk Barat atau disebut sunset, selama ini telah menjadi daya tarik tersendiri sehingga sangat ditunggu oleh sejumlah penikmat alam. Perpaduan aneka warna langit dengan warna jingga yang dominan adalah pemandangan yang selalu diburu. Nah, di Yogyakarta, ada sebuah tempat yang menjadi titik berkumpulnya sejumlah penunggu matahari tenggelam di laut selatan Pulau Jawa, yakni Parang Endog.

Suatu sore, bersama Anisa Rahardini dan teman saya Mohammad Ghoza Farghani, kami berangkat menuju tempat yang ramai diperbincangkan karena eloknya sunset disana. Menurut informasi yang saya dapat dari sebuah booklet pariwisata milik Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta, Parang Endog terletak di ujung timur Pantai Parangtritis di Kabupaten Bantul. Setelah lama direncanakan, akhirnya kami bertiga menempuh jalan yang sama saat hendak menuju Pantai Parangtritis.

Sepanjang perjalanan, kami menyaksikan matahari yang tampaknya sudah hendak berbalik ke peraduan. Semoga kami tidak terlambat, begitu yang ada dalam pikiran saya kala itu. Saya pun lantas mempercepat laju jalan sepeda motor yang saya kendarai bersama Anisa Rahadini. Ingin memastikan letak Parang Endog yang sebenarnya, seraya membayar tiket masuk Pantai Parangtritis, kami bertanya perihal Parang Endog kepada petugas itu. Katanya, Parang Endog berada tepat di bagian timur Pantai Parangtritis.

Mengikuti petunjuk sang petugas, cepat-cepat kami mengikuti arah itu. Sempat bingung, kami pun bertanya kepada seorang ibu-ibu di sebuah toko kelontongan. Informasinya sama dengan sang petugas di gerbang masuk pantai. Lantas, kami pun menuju tempat yang dimaksud. Saya sempat heran, karena arah yang dimaksud dua orang informan tadi malah tembus ke Pantai Parangtritis itu sendiri. Merasa ada yang salah, kami kembali bertanya.

Nah, saat bertanya perihal Parang Endog, jangan heran bila mendapat jawaban seperti ini, "Pantai atau bukitnya?" Itulah jawaban yang kami dapat dari informan yang ketiga. Rupanya, Parang Endog ada dua, yakni pantai dan perbukitan. Pantai Parang Endog memang berada di ujung Timur Pantai Parangtritis, sedangkan Bukit Parang Endog berada di sebelahnya lagi. Untuk mencapai puncak Bukit Parang Endog, kita pun harus menelusuri jalan arah timur menuju Wonosari. Pertigaan jalan, berbelok ke selatan arah jalan menuju Gua Langse.

Beberapa kali melewati tanjakan yang lumayan tinggi, sampailah kita pada sebuah tempat parkir kendaraan. Cukup Rp 3.000 saja per motor, semoga aman. Sore mulai beranjak gelap. Cepat-cepat kami menaiki beberapa anak tangga yang tersusun atas bebatuan alami menuju Bukit Parang Endog. Orang-orang sudah ramai di atas sana. Saya sempat menoleh ke bawah beberapa kali. Waw, pemandangannya hijau oleh pepohonan yang masih tumbuh subur. Akhirnya, sampailah kami di puncak Bukit Parang Endog.

Waw, pemandangann yang luar biasa. Lelah yang kami dapat saat menaiki bukit pun perlahan-lahan sirna, seiring matahari sore yang mulai pulang. Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah pendaran oranye yang menyelimuti Pantai Parangtritis, Pantai Parangkusumo, Pantai Depok, sampai pantai-pantai yang ada di ujung Barat Daerah Istimewa Yogyakarta.

Nah, saat berlibur ke Yogyakarta, Anda pun dapat mengisi waktu sore liburan anda dengan menyaksikan matahari tenggelam dari atas Bukit Parang Endog, yang ternyata sudah masuk ke dalam wilayah Kabupaten Gunungkidul ini.

"Signature Tower" Dibicarakan Dunia

Signature Tower yang terbagi ke dalam beberapa peruntukan (perkantoran, ritel dan hotel), mempunyai kans terserap pasar karena luas bangunannya tidak terlalu besar. Dalam keadaan pasar seperti saat ini harusnya akan terserap dengan baik.

JAKARTA, KOMPAS.com - Spekulasi mengenai kesanggupan Jakarta membangun "supertall" atau gedung pencakar langit di atas 300 meter tampaknya akan segera berhenti. Pasalnya, The Council on Tall Buildings and Urban Habitat (konsili bangunan tinggi dan perkotaan) bakal menggelar presentasi menarik tentang bangunan tertinggi di Indonesia yakni Signature Tower.
Dan yang terpenting apakah ruang yang akan disewakan di dalamnya akan terserap pasar pada saat bangunan itu jadi.
-- Arief Rahardjo
Presentasi ini akan berlangsung pada 5 Juli mendatang di situs proyek Signature Tower, Jalan Jendral Sudirman, Jakarta. Hadir dalam acara ini Direktur Eksekutif The Council on Tall Buildings and Urban Habit, Antony Wood dan Perwakilan Senior Signature Tower.
Tema presentasi berjudul "Indonesia and The Global Movements in Tall: Trends, Challenges", ditekankan pada tren global gedung-gedung pencakar langit dan implikasinya bagi Indonesia.
Membangun "supertall" memang bukan perkara mudah. Bukan pula seperti membalik telapak tangan laiknya legenda-legenda yang biasa diceritakan di bangku sekolah. Ada banyak hal yang membuat realisasi "supertall" menjadi sangat kompleks. Biaya adalah salah satu unsur penting yang besar pengaruhnya terhadap kelancaran pembangunan.
Jika dana yang dialokasikan mencukupi, maka desain arsitektural seaneh, seunik, dan setinggi apa pun bisa diwujudkan. Dengan kata lain, semakin tinggi dan "out of the box" sebuah bangunan, akan kian membengkak pula kebutuhan dananya. Di Jakarta saja saat ini ongkos konstruksi sudah berada pada angka 800 dollar AS per meter persegi atau senilai Rp 7,7 juta.
Mudah dimafhumi jika beberapa pencakar langit di Jakarta yang telanjur dilansir beberapa waktu lalu, seperti Jakarta Tower, BUMN Tower/Khatulistiwa Tower, dan teranyar Signature Tower (Dhanayasa Arthatama) harus mengalami tarik ulur. Entah karena desainnya yang harus direvisi atau juga karena kekurangan "amunisi" tadi.
Nah, bagaimana dengan Signature Tower?Sebenarnya, menurut Head of Research and Advisory Cushman and Wakefield Arief Rahardjo, tinggi dan rendahnya sebuah bangunan dampak signifikannya hanya terjadi pada desain arsitektural dan struktur yang memengaruhi efisiensi floorplate-nya. "Dan yang terpenting apakah ruang yang akan disewakan di dalamnya akan terserap pasar pada saat bangunan itu jadi. Untuk Signature Tower yang dalam satu bangunan akan terbagi-bagi dalam beberapa peruntukan (perkantoran, ritel dan hotel), sebenarnya mempunyai kans terserap pasar karena luas bangunannya tidak terlalu besar. Dalam keadaan pasar seperti saat ini harusnya akan terserap dengan baik," ujar Arief.
Signature Tower, Simbol Kebanggaan Indonesia?Signature Tower digadang-gadang sebagai bangunan tertinggi kelima di dunia. Menjulang 638 meter dan berisi 111 lantai.
JAKARTA, KOMPAS.com- Kuala Lumpur boleh punya Petronas Tower, sebagai pencakar langit tertinggi kelima di dunia saat ini. Tak mau kalah, Jakarta pun kelak bakal punya gedung yang menantang angkasa. Gedung ini bernama Signature Tower, menjulang 638 meter dan mencakup 111 lantai.

Jika Signature Tower yang dikembangkan Grahamas Adisentosa ini terbangun, maka akan menempati posisi tertinggi kelima di dunia hingga 2020 mendatang. Posisi pertama ditempati Kingdom Tower yang menjulang hingga 1 kilometer, disusul kemudian berturut-turut oleh Burj Khalifa, Ping An Finance Center, dan Seoul Light DMC Tower.

Smallwood, Reynolds, Stewart, Stewart and Associates Inc. (SRSSA) merancang gedung di CBD Sudirman ini dengan mengambil bentuk candi Borobudur sebagai inspirasi utama.

Managing Director Pandega Desain Weharima sebagai mitra lokal SRSSA, Tiyok Prasetyoadi mengatakan, inspirasi candi Borobudur merupakan pemenuhan prinsip local approach sebagai filosofis dasar sebuah karya arsitektur. Bahwa kearifan lokal adalah akar budaya yang harus ada dan diterjemahkan dalam desain bangunan Signature Tower.

"Itu bukan sekadar tempelan melainkan unsur utama yang mengikat unsur-unsur lainnya seperti teknologi, modernitas, dan manusia. Jadi, tampilan visual, lebih lagi eksistensi Signature Tower tidak sebatas merepresentasikan kemajuan teknologi, juga simbol budaya dan humanity," papar Tiyok kepada Kompas.com, di Jakarta, Jumat (5/7/2013) usai presentasi Signature Tower dalam peta gedung pencakar langit di dunia.

Dalam kompleks pengembangan Signature Tower nantinya akan berdiri dua menara utama. Selain Signature Tower, menara lainnya dirancang setinggi 50 lantai. Menara kedua ini mencakup hotel dan perkantoran. Sementara Signature Tower berisi ruang ritel, perkantoran dan hotel.

Untuk merealisasikan proyek multifungsi (mixed use project) ini Grahamas Adisentosa harus merogoh kocek senilai 2 miliar dollar AS (Rp 19,8 triliun). 

Menurut Tiyok, Signature Tower akan memulai konstruksi pada Agustus 2014. Saat ini masih dalam proses perijinan block plan yang memakan waktu sekitar 2 hingga 3 bulan. Setelah itu, sidang arsitektur di Tim Penasihat Arsitektur Kota (TPAK) selama 3 bulan, dilanjutkan pematangan desain. Tiyok menargetkan konstruksi rampung 2017 atau paling lambat awal 2018.

Executive Director Council on Tall Buildings and Urban Habitat, Antony Wood berpendapat secara teknis, demografis, dan politis, Signature Tower memiliki kemungkinan besar untuk dibangun. Dan Jakarta, potensial memiliki 1 hingga 3 supertall.

"Namun, sebelum membangun supertall, Jakarta seharusnya konsentrasi pada masalah mendasar yang sangat krusial yakni perbaikan dan penambahan insfrastruktur. Mengembangkan transportasi publik yang terintegrasi jauh lebih penting ketimbang pencakar langit," tandas Antony.

Jakarta sebagai salah satu metropolitan yang ingin diakui dunia, tertinggal 15 tahun dari Kuala Lumpur dan 10 tahun dari Bangkok dalam hal kemajuan transportasi publik. Jika kondisi infrastruktur seperti saat ini, lanjut Antony, kehadiran Signature Tower menjadi mubazir. Keindahan arsitektural gedung tidak bisa dinikmati secara visual oleh publik, karena mereka mengalami kesulitan untuk mendatangi tempat ini.

Setinggi 530 Meter, Inilah Tampilan Pertamina Energy Tower...


Dengan struktur bangunan terdiri dari 99 lantai, SOM merancang gedung ini sebagai gedung berdesain berkelanjutan, seperti membuat bentuk corong angin pada puncak gedungnya sebagai penangkap energi.

KOMPAS.com — Setinggi 530 meter, Pertamina Energy Tower akan menjadi kantor pusat PT Pertamina (Persero) yang akan tercatat sebagai gedung pencakar langit tertinggi kesembilan di dunia. Dirancang oleh Skidmore Owings Merrill (SOM), Pertamina Energy Tower akan menjadi nuansa baru di langit Jakarta.

Dengan struktur bangunan terdiri dari 99 lantai, SOM merancang gedung ini sebagai gedung berdesain berkelanjutan, seperti membuat bentuk corong angin pada puncak gedungnya sebagai penangkap energi. 

Dikalibrasi untuk mengikuti kondisi geografis Jakarta, fasad gedung ini dibuat melengkung dengan ekstensi fitur brise soleil yang akan memastikan suhu di dalam gedung senantiasa nyaman sepanjang tahun. Cara ini juga akan dapat mengurangi kebutuhan pencahayaan buatan. Sementara itu, jalan-jalan di sekitar gedung akan ditutup photovoltaic sebagai penghubung antargedung sekaligus melindungi paparan cuaca dan membangun berbagai ruang publik yang dapat diakses siapa saja.

Gedung ini diharapkan berfungsi sebagai "kota dalam kota", membawa bersama-sama hidup, bekerja, sekaligus ruang rekreasi. Di dalamnya akan dibangun sebuah auditorium berkapasitas 2.000 kursi, sebuah pusat olahraga besar, serta sebuah masjid besar. 

Dijadwalkan dapat beroperasi pada 2020 mendatang, SOM mengklaim bahwa pembangunan proyek ini akan mengurangi kebutuhan air pada seluruh gedung dan meminimalkan emisi karbon dioksida sebesar 26 persen, serta menghasilkan 25 persen sumber energi terbarukan pada 2020. 

Seperti diberitakan sebelumnya di Kompas.com (Pertamina Energy Tower, Nomor 9 Tertinggi di Dunia!), PT Pertamina (Persero) telah memulai retasan impian membangun salah satu pencakar langit tertinggi di Indonesia yang ditandai peletakan batu pertama, Senin (9/12/2013). Pencakar langit bernama Pertamina Energy Tower ini akan berlokasi di kawasan superblok Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan.

Pertamina Energy Tower, Nomor 9 Tertinggi di Dunia!
JAKARTA, KOMPAS.com — PT Pertamina (Persero) telah memulai retasan impian membangun salah satu pencakar langit tertinggi di Indonesia yang ditandai peletakan batu pertama, Senin  (9/12/2013).

Pencakar langit ini bernama Pertamina Energy Tower. Lokasinya berada di kawasan superblok Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Agustiawan mengatakan, gedung kebanggaan Pertamina itu memiliki ketinggian 530 meter dan berisi 99 lantai.

“Luas total bangunannya mencapai 540.000 meter persegi dan akan difungsikan sebagai kantor pusat Pertamina dan anak-anak usahanya dengan kapasitas 23.000 karyawan," tutur Karen.

Ketinggian Pertamina Energy Tower masih kalah menjulang jika dibandingkan dengan menara lainnya di dunia, baik yang sudah terbangun maupun sedang dalam tahap konstruksi. Menurut Council on Tall Building and Urban Habitat (CTBUH), Pertamina Energy Tower akan menempati peringkat 9 dunia. 
Sembilan teratas supertall dan megatall dunia tersebut sebagai berikut:

1. Kingdom Tower Jeddah, Arab Saudi, (1.000 m)
2. Burj Khalifa Dubai, Uni Emirat Arab, (828 m)
3. Ping An Finance Shenzhen, China, (660 m) 
4. Wuhan Greenland Center, China, (636 m)
5. Makkah Royal Clock Tower, Arab Saudi, (601 m)
6. Goldin Finance 117 Tianjin, China, (597 m)
7. One World Trade Center New York, Amerika Serikat, (541 m)
8. CTF Guangzhou, China, (530 m)
9. Pertamina Energy Tower Jakarta, Indonesia, (530 m).

Posisi 9 terjangkung dunia ini pun bakal berubah saat Signature Tower Jakarta (STJ) memulai konstruksinya yang dijanjikan Agustus 2014 mendatang. Ketinggian menara yang dikembangkan Artha Graha Group melalui Grahamas Adisentosa ini mengangkasa hingga 638 meter (111 lantai).

Managing Director Pandega Desain Weharima, arsitek dan mitra lokal Smallwood, Reynolds, Stewart, Stewart and Associates Inc (desainer STJ), Tiyok Prasetyoadi, mengungkapkan, pada Januari 2014 STJ akan melakukan uji beban. 

"Begitu block plan rampung, kami akan langsung melanjutkan dengan uji beban. Kami tinggal menunggu IMB yang keluar pada Juni 2014. Sementara restu dari Dinas Tata Ruang sudah kami kantongi," ujar Tiyok kepada Kompas.com, Senin (9/12/2013).

Pertamina Energy Tower sendiri dijadwalkan dapat beroperasi pada 2020 mendatang, seiring dengan ambisi sebagai perusahaan energi terbesar di Asia Tenggara pada 2025 (ASEAN Energy Champion).

Membangun "Eco hotel" Memang Mahal, Tapi Hemat Lebih Banyak!

ILUSTRASI - Green hotel. Sebuah hotel menerapkan kebijakan untuk handuk yang digunakan kembali oleh tamu akan berkontribusi pada penanaman pohon.

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebuah eco-hotel atau hotel ramah lingkungan ibarat investasi di masa depan. Hal tersebut dirasakan pula oleh jaringan operator hotel Tauzia Hotel Management yang mengelola hotel bujet, POP Hotel.
"Hotel POP fokus sekali pada eco-friendly. Untuk POP, memang (perlu) investasi lebih tinggi karena memakai solar panel, shower pod, juga pre-fabpanel. Pre-fab panel itu dinding atau fasad hotel POP," kata Corporate Communications Manager Tauzia Hotel Management, Yani Sinulingga kepadaKompas.com, Selasa (16/4/2013).
Penggunaan pre-fab panel dan shower pod yang tinggal pasang, lanjut Yani, akan mempercepat masa pembangunan hotel. Dalam 10 bulan ke depan, hotel ini sudah akan berdiri.
"Saat ini masih dalam operasional, POP hotel sudah bisa menghemat energi sampai 30 persen," ungkap Yani.
Sementara itu, Director of Operations Green Building Council Indonesia (GBCI) Rana Yusuf Nasir mengatakan, jumlah hotel ramah lingkungan saat ini terus bertambah. Hal ini sangat penting untuk menjaga kelestarian lingkungan serta mengurangi dampak kerusakan pada lingkungan.
"Ada kriteria yang harus dipenuhi sebuah eco-hotel, yaitu nilai-nilai peletarian dengan melakukan 3R, yaitu reduse, reuse, recycle. Lalu, bangunan yang sehat dan nyaman sehingga membuat tamu pun sehat dan senang, serta hemat energi dan air," jelasnya pada seminar mengenai "Hospitality Investment World Indonesia 2013" beberapa.
Rana menambahkan, sebenarnya setiap eco-hotel mampu menghemat biaya operasional hotel sehingga menaikkan keuntungan. Memang, modal di awal untuk membangun eco-hotel lebih mahal.
"Modal awal memang naik tujuh persen. Tapi, nantinya bisa mengurangi biaya operasional sampai 25 persen," katanya.
Sementara itu, Vice Chairman Rama Hotels & Resorts Bali Nyoman Santiawan, mengatakan bahwa dalam dua tahun hotelnya merasakan pengurangan biaya operasional hotel sejak menjadi eco-hotel.
"Kami menggunakan panel surya, dan itu memang mahal. Kami mengharapkan adanya subsidi dari pemerintah bagi bangunan yang mau menggunakan teknologi ini," katanya.
Nyoman juga menyarankan untuk menggunakan bahan-bahan lokal. Penggunaan bahan lokal akan mengurangi emisi kendaraan.
Sepakat dengan Nyoman, Senior Vice President, Construction - Design & Technical Services, Asia Pasicif Accor, Kingsley Amose, menyarankan agar hotel tak perlu boros dalam penataan ruangan dan penggunaan teknologi.
"Jangan sia-siakan ruangan kosong dan jangan terlalu boros dalam hal teknologi. Konsumsi terbesar terutama di lampu. Padahal, kita bisa memanfaatkan sinar matahari dengan jendela-jendela besar, misalnya," kata Kingsley.
Ia menambahkan, konsumsi air bisa dihemat hingga 55 persen, jika air diolah kembali. Misalnya, lanjut Kingsley, air sisa mandi bisa diolah untuk menyiram tanaman.
"Biasanya tiga sampai empat tahun baru terasa dampak keuntungannya," ungkap Kingsley.

Turis Semakin Menyukai Hotel Ramah Lingkungan

JAKARTA, KOMPAS.com - Apakah Anda pernah memilih sebuah hotel untuk tempat menginap berdasarkan faktor ramah lingkungan? Belakangan, banyak hotel berdiri dengan konsep eco-hotel atau hotel ramah lingkungan.
Sudah terbukti bangunan yang ramah lingkungan menarik bisnis. Pelanggan yang sadar ramah lingkungan akan lebih memilih menginap di eco-hotel.
-- Kingsley Amose
Salah satunya adalah POP Hotel yang dikelola oleh Tauzia Hotel Management Hotels. POP Hotel yang termasuk kategori bujet menerapkan konsep hotel yang ramah lingkungan baik bangunan dan sistem pengelolaannya.
"Survei khusus mengenai konsumen Indonesia memilih berdasarkan faktor 'green' belum ada. Tapi kami yakin ke depan market Indonesia makin sadar lingkungan. Apalagi generasi muda makin sadar lingkungan," kata Corporate Communications Manager Tauzia Hotel Management, Yani Sinulingga kepada Kompas.com, Selasa (16/4/2013).
Sebelumnya, Vice Chairman Rama Hotels & Resorts Bali, Nyoman Santiawan, menuturkan bahwa kompetisi hotel di Bali semakin ketat. Selain menjaga lingkungan, eco-hotel bisa menjadi positioning hotel yang lebih baik.
"Juga sarana untuk mendidik pelanggan untuk hidup lebih 'green'. Prediksinya tahun 2015, sumber air bersih di Bali akan mulai bermasalah. Jadi sebelum ini mulai terjadi, kami berusaha mencegahnya dengan mengelola penggunaan air di hotel," jelasnya saat dalam seminar "Hospitality Investment World Indonesia 2013" di Jakarta, beberapa waktu yang lalu.
Nyoman mengakui banyak biro perjalanan wisata berbasis online yang memiliki sistem pencarian untuk hotel-hotel ramah lingkungan. Ia melihat semakin banyak orang yang lebih memilih hotel ramah lingkungan.
"Makin banyak orang peduli pada lingkungan. Kami menerima tamu repeater yang percaya dengan menginap di hotel kami maka bisa berkontribusi pada lingkungan," tutur Nyoman.
Sementara itu, dalam seminar yang sama, Senior Vice President, Construction - Design & Technical Services, Asia Pasicif Accor, Kingsley Amose, menuturkan eco-hotel mampu menarik kunjungan tamu.
"Sudah terbukti bangunan yang ramah lingkungan menarik bisnis. Pelanggan yang sadar ramah lingkungan akan lebih memilih menginap di eco-hotel," katanya.
Sedangkan Director of Operations Green Building Council Indonesia, Rana Yusuf Nasir mengungkapkan masalah utama di Indonesia adalah konsumsi energi dan air. Oleh karena itu, eco-hotel bisa ikut membantu dalam menangani masalah tersebut.
"Biaya untuk konsumsi energi, penerangan dan lain-lain, akan terus tinggi. Di India, China, dan Asia Tenggara, biayanya terus meninggi," kata Kingsley.
Ia memberi contoh hotel di China. Hotel-hotel di China, terpaksa memotong keuntungannya sebesar 20 persen karena konsumsi energi. Menurutnya, hotel-hotel di Asia Tenggara menghadapi kondisi yang tak jauh berbeda.
"Bayangkan jika harus memotong keuntungan tersebut meningkat jadi dua kali lipat. Anda (para pemilik dan pengelola hotel) tak punya pilihan lain selain untuk menjadi hotel ramah lingkungan," kata Kingsley.

Hotel Butik Potensial Menarik Wisatawan


Living room di salah satu suite Kupu Kupu Jimbaran Rooftop Suites & Spa.

JAKARTA, KOMPAS.com - Hotel butik dipandang mampu menarik kunjungan wisatawan ke suatu destinasi. Walaupun destinasi tersebut bukanlah destinasi wisata favorit.

Chief Executive Officer Yoo Hotels, Marco Nijhof mengungkapkan hal tersebut di salah satu sesi pada acara "Indonesia Hospitality & Tourism Investment Conference" di Jakarta, Selasa (7/5/2013). "Hotel butik bisa saja berada lokasidowntown, tidak harus di pusat kota. Sebab desain dan konsep hotel yang ditawarkan mampurejuvenate lokasi tersebut," kata Marco.

Memang, lanjut Marco, jika bisa memilih destinasi wisata yang favorit atau lokasi-lokasi populer lebih baik, tetapi bukan menjadi keharusan. Bisa saja, destinasi pilihan kedua. "Sebab, hotel butik memiliki ciri khas desain yang kuat," katanya.
Bukan berarti punya lukisan artistik di dinding kamar hotel, lalu hotel itu berarti hotel butik.
-- Marco Nijhof
Hotel butik, tambah Marco, mampu memiliki desain unik yang keluar dari keseharian seseorang, tetapi tetap nyaman dan cocok bagi kehidupan orang. "Bukan berarti punya lukisan artistik di dinding kamar hotel, lalu hotel itu berarti hotel butik," ungkapnya.

Selain desain hotel yang kuat dan unik, umumnya hotel dan resor butik memiliki kamar yang sedikit. Seperti diungkapkan Area & Development Director Asia Pacific Small Luxury Hotels of the World, Victor Wong, hotel butik yang dikelola dalam jaringan umumnya memiliki jumlah kamar kurang dari 200.

"Rata-rata hanya 100 kamar dan masing-masing hotel memiliki desain yang kuat. Desain sangat penting. Tiap lokasi dengan latar belakangnya mempengaruhi desain hotel. Misalnya destinasi yang bersejarah, konsepnya pun lebih ke arah situ," katanya.

Bagaimana minat wisatawan terhadap hotel butik? Di Inggris, ungkap Marco, minat wisatawan terhadap hotel butik sangat tinggi.

Sementara itu, Wong menambahkan jika di Asia seperti Bangkok dan Singapura hotel-hotel butik populer pula di Asia.

Sedangkan di Indonesia, seperti diungkapkan Senior Vice President, Design Service, Banyan Tree Holdings Limited, Dharmali Kusumadi, turis domestik apalagi turis asing merupakan potensi besar untuk hotel butik.

"Hotel butik tidak akan bersaing dengan hotel bintang empat atau lima yang biasanya. Karena memang berbeda. Hotel butik bisa mudah diterima potensi pasar di destinasi yang menjadi lokasi hotel tersebut," tambah Dharmali.

10 Hotel Bujet Indonesia Raih ISO 9001


ISO 9001 merupakan standar internasional dengan syarat-syarat harus dipenuhi secara universal berkenaan sistem manajemen mutu.

JAKARTA, KOMPAS.com - Menjamurnya hotel berbiaya murah di Indonesia rupanya melahirkan kesadaran dalam peningkatan kualitas baik dalam layanan maupun manajerial. Dengan begitu, hotel ekonomis tak selalu berarti buruk dalam segala hal. Buktinya, sepuluh hotel bujet Indonesia berhasil memperoleh sertifikasi ISO 9001 untuk sistem manajemen mutu.
Kesepuluh hotel tersebut dikelola oleh Grup Accor yang berbasis di Perancis. Mereka adalah Ibis Bandung Trans Studio Ibis Jakarta Arcadia, Ibis Jakarta Kemayoran, Ibis Jakarta Mangga Dua, Ibis Jakarta Slipi, Ibis Jakarta Tamarin, Ibis Semarang, Ibis Solo, Ibis Surabaya Rajawali, dan Ibis Yogyakarta Malioboro.
Gerard Guillouet, Senior Vice President, Accor Malaysia-Indonesia-Singapore mengatakan, raihan sertifikasi ISO 9001 ini sebagai bentuk komitmen dalam memenuhi standar mutu global. ISO 9001 merupakan standar internasional dengan syarat-syarat harus dipenuhi secara universal berkenaan sistem manajemen mutu. Sertifikasi ini dapat diperoleh sebuah institusi dengan menerapkan kebijakan, prosedur dan sistem yang mengikuti panduan dan standar ISO, dan dinilai oleh lembaga sertifikasi independen.
"Audit dan sertifikasi untuk ibis dilakukan oleh Bureau Veritas, penyedia layanan testing, inspection and certification (TIC) terkemuka di dunia," jelas Guillouet kepada Kompas.com di Jakarta, Rabu (1/4/2013).

Balik Modal Hotel Bujet 7 Tahun


Ilustrasi; Dana untuk membangun hotel murah kurang dari Rp 100 miliar. Namun, masa pengembalian investasi terhitung cepat. Itulah mengapa, beberapa pengembang besar menggarap pasar menengah bawah ini.

JAKARTA, KOMPAS.com - Mudah dimafhumi, jika sekarang ini hotel bujet (ekonomis) bertebaran di seantero Nusantara. Mulai dari kota besar, kota menengah hingga kota setingkat kecamatan, kedatangan hotel-hotel murah. Mereka ini tidak saja dikembangkan oleh pemain yang bergelut di industri hospitalitas atau properti. Semua orang, siapa pun yang memiliki fulus cukup, bisa membangunnya.
Saat ini kami tengah menggarap pembangunan CitraDream di sejumlah kota di Indonesia. CitraDream merupakan brand hotel bujet yang kami bangun dan kelola sendiri di bawah PT Ciputra Hospitality.
-- Artadinata Djangkar
Bagaimana tidak menjadi fenomena jika dengan kalkulasi paling sederhana saja, sebuah hotel bujet dapat dibangun hanya berbekal dana senilai kurang dari Rp 100 miliar. Angka ini sudah termasuk investasi tanah di lokasi premium. Jumlah lebih rendah bisa kita hitung jika lahannya berlokasi di jalur kolektor (bukan jalan utama) dan telah dimiliki beberapa tahun sebelumnya. Sebut saja @HOM Premium Yogyakarta.
Direktur Utama PT Nirwana Kandara, pengembang @HOM Premium Yogyakarta, Yuda Widjaja mengakui hanya menggelontorkan dana Rp 10 miliar. Kebetulan, lahannya sudah mereka miliki lima tahun sebelumnya. Mereka hanya mengalokasikan dana investasi untuk biaya konstruksi.
Belum lagi kinerja berupa tingkat okupansi yang menunjukkan kurva positif. Selama 2012 hingga kuartal I 2013, menurut Jones Lang LaSalle, tingkat huniannya selalu di atas 70 persen. Dengan tarif sekitar Rp 300.000 hingga Rp 500.000, pemilik hotel akan mendapat keuntungan hanya pada tingkat hunian 60%. Lebih dari itu, pundi bakal semakin membengkak.
Menurut Direktur PT Ciputra Property Tbk Artadinata Djangkar, pihaknya menganggarkan dana sekitar Rp 40 miliar-Rp 50 miliar untuk mengembangkan satu hotel ekonomis. Lokasinya berada di pusat kota, strategis dan memiliki aksesibilitas memadai. Dengan tarif per malam Rp 350.000-Rp 450.000, Arta mengasumsikan dapat mencapai pengembalian modal (break even point/BEP) dalam waktu 6 hingga 8 tahun ke depan.
"Saat ini kami tengah menggarap pembangunan CitraDream di sejumlah kota di Indonesia. CitraDream merupakan brand hotel bujet yang kami bangun dan kelola sendiri di bawah PT Ciputra Hospitality," tutur Artadinata kepada KOMPAS.com di Jakarta, Rabu (8/5/2013). CitraDream akan hadir di Cirebon, Semarang, Banjarmasin, Bengkulu, Yogyakarta, Bandung dan Jakarta.
Asumsi Arta diamini Direktur Pelaksana Metropolitan Golden Management (MGM) Basari Bachri. Menurutnya, return on investment hotel kelas menengah, baik budget, bintang dua maupun tiga, lazimnya 7 tahun.
"Kami mengelola brand Horison, @HOM Premium, Aziza dan lain-lain yang kami kalkulasikan dapat mencapai pengembalian investasi kurang dari sepuluh tahun," ujar Basari.

Jakarta Bakal Punya 42 Hotel Baru


Pertumbuhan tingkat hunian tersebut juga dibarengi kenaikan tarif kamar sebesar rata-rata 4,45 persen ketimbang kuartal keempat tahun lalu. Tercatat, hotel bintang 3 mengalami peningkatan harga 6,2 persen menjadi rata-rata Rp 664.300. Kelas hotel di atasnya mencapai pertumbuhan harga 7,2 persen menjadi Rp 799.552, dan 2,7 persen untuk hotel bintang 5 yang mencapai Rp 1.340.409 per malam.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengembangan hotel di Jakarta akan terus menunjukkan performa menggembirakan. Hal ini dipicu oleh tingkat permintaan yang stabil dan cenderung meningkat seiring positifnya pertumbuhan ekonomi.
Government spending dan ekspansi usaha dari perusahaan nasional dan multinasional yang membutuhkan tempat untuk mengakomodasi aktifitas meeting, incentive, conference and exhibition (MICE) yang kian pesat juga berimplikasi pada perbaikan performa tingkat serapan hotel. Ditambah lagi sepanjang 2012 Bandara Internasional Soekarno-Hatta termasuk dalam 10 bandara paling sibuk di dunia dalam segi jumlah penumpang. Ini menyebabkan sektor perhotelan akan terus bertumbuh dengan pesat.
Hal tersebut dipaparkan Coldwell Banker Indonesia dalam risetnya yang melaporkan, bahwa tingkat hunian semua strata hotel berada pada posisi di atas 50 persen selama triwulan I 2013. Kinerja paling menonjol diperlihatkan hotel-hotel kelas bintang 3, yakni 74,11 persen, disusul hotel bintang 4 sekitar 70 persen, serta hotel bintang 5 dengan tingkat okupansi mencapai 66,62 persen.
Pertumbuhan tingkat hunian tersebut juga dibarengi kenaikan tarif kamar sebesar rata-rata 4,45 persen ketimbang kuartal keempat tahun lalu. Tercatat, hotel bintang 3 mengalami peningkatan harga 6,2 persen menjadi rata-rata Rp 664.300. Kelas hotel di atasnya mencapai pertumbuhan harga 7,2 persen menjadi Rp 799.552, dan 2,7 persen untuk hotel bintang 5 yang mencapai Rp 1.340.409 per malam.
Ke depan, Jakarta akan diramaikan oleh kehadiran 42 hotel baru hingga kuartal keempat 2014 mendatang. Dari sejumlah hotel tersebut, 21 di antaranya merupakan hotel berklasifikasi bintang empat, 13 hotel bintang tiga, dan sisanya hotel bintang lima. Hotel kelas mewah ini mayoritas terdistribusi di kawasan CBD Jakarta dengan cakupan wilayah Kemang, Kasablanka, Satrio, Menteng, Senayan, Senopati, Gatot Subroto dan Kemayoran. Adapun brand hotel internasional yang akan mengelola hotel-hotel tersebut adalah, JW Marriott, Raffless, Fairmont, Langham, St.Regis dan Grand Mercure.

60 Hotel Penuhi Yogyakarta

Hotel Tentrem merupakan fasilitas akomodasi bertaraf bintang lima di Yogyakarta dan merupakan satu dari 7 hotel baru yang beroperasi tahun ini.

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebagai salah satu destinasi wisata budaya dan pendidikan, Yogyakarta memang punya pesona. Tak heran, jika kota ini dijadikan pilihan utama investor perhotelan, setelah Bali. Tahun 2013, terdapat 60 proposal perijinan hotel baru berkualifikasi bintang 3,4 dan 5.
Tahun 2012, tercatat turis mancanegara sebanyak 1,2 juta orang dan 190.000 orang turis domestik. Jumlah ini akan meningkat, karena Yogyakarta saat ini memiliki spot-spot baru yang menawarkan pengalaman wisata yang berbeda.
-- Istidjab M Danunagoro
Jika ijin ke-enampuluh hotel tersebut disetujui, akan menggenapi fasilitas akomodasi lainnya yang sudah lebih dulu beroperasi. Memasuki kuartal 2 tahun ini, telah dan akan buka tujuh (7) hotel baru.
Data Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Yogyakarta menunjukkan, sebagian besar dari ketujuh hotel tersebut dikelola oleh jaringan operator domestik. Antara lain Metropolitan Golden Management (MGM), Sido Muncul Group dan Zurich Group. Sebagian lainnya dikelola oleh bendera asing yakni Accor Group, dan Swissbel Hotel Group. Sedangkan tahun 2014, sebanyak 10 hotel baru siap menjejali kota
Menurut Ketua PHRI Yogyakarta Istidjab M Danunagoro, maraknya pembangunan hotel baru tak lepas dari kinerja industri pariwisata yang terus memperlihatkan kemajuan. Baik dalam kuantitas (jumlah) maupun kualitas wisatawan.
"Tahun 2012, kami mencatat kedatangan turis mancanegara sebanyak 1,2 juta orang dan 900.000 orang turis domestik. Jumlah ini akan beranjak naik, karena Yogyakarta saat ini memiliki spot-spot baru yang menawarkan pengalaman wisata yang berbeda," jelas Istidjab kepada KOMPAS.com, Selasa (14/5/2013).
Istidjab menambahkan,  pengusaha industri pariwisata, terutama perhotelan dan restoran, semakin sadar pentingnya meningkatkan kualitas standar pelayanan, mengeksplorasi budaya lokal secara maksimal serta kemampuan bersinergi dengan modernitas. Sehingga menghasilkan produk yang memiliki daya saing tinggi dan menjadi pilihan para pelancong.
"Mereka, para wisatawan yang datang ke Yogyakarta, bukanlah wisatawan musiman. Melainkan wisatawan yang "jatuh cinta" dan menghargai keistimewaan obyek-obyek pariwisata di sini," imbuh Istadjab.

Seru, Perang Pusat Belanja di Yogyakarta!


Sahid Jogja Lifestyle City.

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Daerah Istimewa Yogyakarta memang istimewa. Tak hanya terus dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara yang pada gilirannya menumbuhkan bisnis perhotelan, tetapi juga bisnis pusat belanja. 

Di sektor pusat belanja, saat ini Yogyakarta tengah gegap gempita membangun tak kurang dari lima ruang ritel baru. Kelimanya adalah Sahid Yogya Lifestyle City (Grup Sahid), Jogja City Mall (Garuda Mitra Sejati), Lippomall Yogyakarta (Lippo Karawaci), Hartono Lifestyle Mall, dan Malioboro City (Inti Hosmed).

Kehadiran kelimanya menggenapi pusat belanja yang sudah eksis, seperti Galleria Mall, Malioboro Mall, Ambarrukmo Plaza, dan Jogjatronic. Mereka beradu konsep, bukan saja berupa tenancy mix(pembauran penyewa), melainkan juga desain interior, fasad (eksterior), harga sewa, kelas, dan segmen pasar.

Berkembangnya jumlah pusat belanja di wilayah ini tak lain karena faktor Indeks Tendensi Konsumen (ITK) yang terus meningkat. Pada triwulan II-2013 tercatat sebesar 110,47. Ini artinya,
kondisi ekonomi konsumen mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya. 

Tingkat optimisme konsumen juga lebih tinggi dibandingkan triwulan I-2013 yang mencatat indeks 106,13. Membaiknya kondisi ekonomi masyarakat/konsumen Yogyakarta terutama didorong oleh peningkatan pendapatan konsumen dan relatif rendahnya pengaruh inflasi terhadap tingkat konsumsi sehingga tingkat konsumsi masyarakat mengalami kenaikan. 

Hal itulah yang memotivasi pengembang sekelas Lippo Karawaci merambah Yogyakarta. Menurut Vice Chairman Lippomalls, Eddy Mukmin, Yogyakarta memiliki potensi konsumsi yang tak kalah dibanding Bandung dan kota-kota lainnya, terutama terjadi pada masyarakat kelas menengah atas. 

Dengan demikian, Lippomall Yogyakarta dirancang sebagai pusat belanja untuk kelas menengah atas. Oleh karenanya, segala aspek dibuat sedetail mungkin dan impresif. 

"Meskipun berada di situs bangunan yang sudah jadi, tapi kami melakukan perubahan total terhadaplay out interior dan juga fasad, serta tentu saja konsep. Nanti, visualnya akan mendekati standardisasi Lippomall Kemang Village," papar Eddy kepada Kompas.com, Selasa (3/12/2013).

Lippomall Yogyakarta yang berisi penyewa utama Hypermart, Matahari Department Store, dan beberapa merek dari Mitra Adi Perkasa (MAP), serta penyewa lainnya dijadwalkan beroperasi pada pertengahan 2014 mendatang.

"Kami mengejar momentum Lebaran, jadi yang buka lebih dulu adalah dua penyewa utama itu. Disusul kemudian sinepleks Maxx," tandas Eddy.

Hal senada akan terjadi di Sahid Yogya Lifestyle City (SYLC). Marketing GM Sahid Yogya Lifestyle City, Limandani, mengatakan, pusat belanja SYLC akan dibuka untuk publik pada kuartal 2014 mendatang, atau paling telat awal tahun 2015.

"Kami sangat memperhatikan detail dan presisi desain, karena yang kami bangun bukan sekadar mal, juga terkoneksi dengan bangunan lainnya, seperti hotel, apartemen, dan kondotel. Jadi, revisi desain tak mungkin dihindari," tandas Dani.

Adapun beberapa tenant yang sudah menyatakan konfirmasinya untuk bergabung antara lain Blitz Megaplex, Electronic City, Times Bookstore, dan Johnny Rockets. Sementara satu supermarket asal Korea Selatan tengah dalam proses negosiasi.

"SYLC kami rancang sebagai lifestyle mall untuk kelas menengah atas. Mal ini bukan destination mall, melainkan meeting mall. Konsepnya jelas, menyasar eksekutif muda, mahasiswa, dan keluarga muda. Karena itu, dimensi mal pun tak begitu luas," ujar Dani.

Sementara Garuda Mitra Sejati mengusung konsep family mall untuk Jogja City Mall. General Manager Jogja City Mall, Eko Swasono, mengatakan, mal keluarga ini menyasar target pasar masyarakat Yogyakarta dan kota-kota lain di sekitarnya, seperti Klaten, Muntilan, Purworejo, dan Magelang.

"Jogja City Mall akan beroperasi penuh pada Maret atau April 2014 mendatang. Penyewa utama kami adalah Matahari Department Store dan Hypermart," buka Eko kepada Kompas.com, Sabtu (30/11/2013).

Assistant GM Jogja City Mall, Paramita Dewi, menambahkan, selain kedua penyewa utama, mal yang berlokasi di Jombor tersebut menggaet Nanny's Pavilion, Amazon, XXI Cineplex 6 studio, Excelso, Sour Sally, dan 10 tenant di bawah MAP, seperti Starbucks, Sports Station, Adidas, Icon 99, dan Kidz Station.

Thursday, December 12, 2013

Yogya Stop Izin Bangun Hotel

Gambar desain Sahid Condotel Lifestyle City yang sedang dibangun di Yogyakarta. Sebanyak 64 hotel tengah dalam proses penyelesaian perizinan pendiriannya di kota Yogyakarta. Pemkot akan menghentikan pemberian izin. (
Gambar desain Sahid Condotel Lifestyle City yang sedang dibangun di Yogyakarta. Sebanyak 64 hotel tengah dalam proses penyelesaian perizinan pendiriannya di kota Yogyakarta. Pemkot akan menghentikan pemberian izin. (sahidcondoteljogja.blogspot.com)
Saya langsung mencari informasi sebanyak mungkin tentang pembangunan hotel di kota Yogyakarta dan Sleman begitu mendengar kabar bahwa mulai timbul keresahan di masyarakat terkait keadaan kota yang semakin padat. Tulisan Kompasianer Hendra Wardana pada 29 Mei lalu menyorot maraknya pembangunan mal ikut memantik saya menelusuri lebih jauh. Sebagai warga pendatang, saya ingin tahu banyak apa yang mendasari pandangan awam bahwa seakan-akan pemerintah kota begitu mudahnya memberikan izin pendirian bangunan komersil. Hasilnya setengah mengejutkan.

kompasiana.com : Merebaknya jumlah hotel baru di kawasan kota Yogyakarta memaksa pemerintah menghentikan izin pembangunan hotel mulai 2013 ini. Dalam tiga tahun terakhir saja, tercatat pemerintah kota Yogyakarta menerima permohonan pembangunan setidaknya 64 gedung hotel baru. Menanggapi banyaknya keluhan dari warga kota ke instansi terkait, maka Komisi A DPRD diwakili Chang Wendyarto mendesak pemkot untuk menerbitkan Peraturan Wali Kota (perwal) yang menahan penambahan hotel baru di Yogyakarta.

Berdasarkan laporan Tribun Jogja, sebanyak 48 hotel telah merampungkan proses Izin Mendirikan Bangun Bangunan sementara 16 hotel lainnya masih dalam proses pengajuan izin. Dari total yang telah mendapat izin itu ada setidaknya 18 hotel yang berbintang dua hingga bintang lima, selebihnya hotel-hotel kelas melati.

Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X sendiri sebenarnya telah mengeluarkan instruksi yang sama untuk menahan izin pembangunan gedung hotel baru. Citra kota, status keistimewaan, potensi persaingan bisnis yang liar dan tak terkendali, serta aspirasi masyarakat jadi pertimbangan mengapa Sultan merasa perlu menegur pemerintah kota terkait maraknya pendirian hotel. Sultan memberi syarat bahwa pembangunan hotel di kabupaten/kota harus mencapai tingkat kebutuhan minimal 80%. Jikalau kurang, maka izin bisa ditahan.

Hingga saat ini telah terlapor beberapa aksi aliansi warga yang menolak pembangunan hotel di kota Yogya. Di dusun Karangkanjen misalnya, rencana pembangunan hotel Bale Ningrat yang membawa bendera Metropolitan Golden Management (Horison Hotel Group) diprotes persatuan warga RT 48/RW 13 dan RW 14. Warga menolak rencana pembangunan hotel yang direncanakan  berlantai lima dengan luas 5.000 meter persegi itu karena potensi polusi udara, pencemaran drainase air dan kepadatan lalu lintas. Wilayah Karangkanjen sendiri termasuk dusun terpadat karena berada dekat dengan daerah wisata kota.

Menanggapi hal itu, Ketua Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia DIY Istidjab Danunegoro sebagaimana dilaporkan Lensa Indonesia mengatakan, selama warga tidak setuju dan tidak memenuhi persyaratan tanda tangan untuk penerbitan IMB, maka pembangunan tidak bisa dilanjutkan.

Gambar ini diambil pada Mei 2012 lalu, menunjukkan satu dari beberapa proyek pembangunan hotel di dekat jalan protokol kota Yogyakarta. Saat ini hotel tersebut sudah berdiri megah dengan pintu masuknya yang berjarah hanya beberapa meter dari area pejalan kaki. (bharadya/skyscrapercity.com)
Gambar ini diambil pada Mei 2012 lalu, menunjukkan satu dari beberapa proyek pembangunan hotel di dekat jalan protokol kota Yogyakarta. Saat ini hotel tersebut sudah berdiri megah dengan pintu masuknya yang berjarah hanya beberapa meter dari area pejalan kaki. (bharadya/skyscrapercity.com)
Sebagian besar hotel baru di Yogyakarta terletak di sekitar kawasan wisata. Data dinas perizinan kota mencatat di wilayah Malioboro saja saat ini terdapat 8 hotel yang sedang proses bangun dan baru saja selesai pengerjaannya. Di luar pusat wisata, di beberapa kawasan satelit bangunan-bangunan hotel didominasi untuk kelas hotel budget dan gedung-gedung kondominium berkonsep kamar hotel. Warga dan pengguna jalan banyak mengeluhkan lalu lintas yang semakin padat, yang sebetulnya masuk akal karena jarak tepi depan bangunan hotel mengambil jatah “paling mentok” sesuai tertuang dalam RTRW yang adalah 4 hingga 8 meter.

Mataram City yang sedang dibangun, dengan konsep hunian terintegrasinya mungkin akan jadi pelopor bangunan tertinggi di Yogya. Ini memulai tren perhotelan dan hunian baru di Yogyakarta yang memang dalam 2 tahun terakhir sedang digemari investor. Syahdan bangunan itu akan jadi gedung tertinggi di Yogyakarta, dengan tinggi komersial sebanyak 18 lantai atau fisik gedung menjulang setinggi hampir 100 meter. Pembangunan ditargetkan rampung pada medio 2014 dan saat ini, dengan harga Rp 610 juta per unit hunian, telah laku sebanyak 100 dari 269 unit yang ditawarkan. Akankah terjual habis? Investor begitu yakin, kok.

Perizinan khusus
Merebaknya bangunan hotel dan mal baru di Yogyakarta membuat publik bertanya. Kemudian saya coba mengklarifikasi kepada beberapa pihak yang sekiranya bisa menjawab kegalauan saya dan kerisauan masyarakat yang peduli hal ini. Muncul pertanyaan-pertanyaan liar semacam “apakah ada jalur khusus untuk mendapatkan izin gedung-gedung yang tingginya minta ampun itu?”

Pertama kali ke Yogyakarta pada 2007, saya mendapat informasi tidak resmi bahwa sebenarnya di kota Yogyakarta, tinggi bangunan yang diperbolehkan adalah maksimal 8 (delapan) lantai. Ini tidak termasuk monumen, bangunan cagar budaya dan menara telekomunikasi. Keterkejutan saya pertama kali timbul saat pada 2012 lalu UGM dan mitranya merampungkan proyek Menara Pertamina di kampus Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Rampungnya gedung “pencakar awan” berlantai 8 ini membuat FEB jadi pertama dan satu-satunya fakultas dengan gedung berbentuk komersial khas bank dan perusahaan multinasional.

Direktur Utama Karen Agustiawan pernah berujar kepada Liputan 6 bahwa itu adalah bentuk “kebanggaan” Pertamina dalam menjalin hubungan dengan kampus UGM untuk keperluan studi ketahanan dan riset ekonomika dan bisnis. Total uang yang dirogoh? Dua belas milyar. Peresmiannya melibatkan pemangku jabatan provinsi, otoritas kampus dan pihak investor.
Kemudian seperti jamur di musim hujan, sejak itu mulai muncul satu per satu gedung tinggi di kota Yogyakarta. Pacific Building di Jl. Laksda Adisutjipto, Mataram City, Student Apartment di Babarsari (saat ini dalam tahap ground breaking) menyusul begitu mendayu-dayu.

Peraturan zonasi yang tertuang dalam aturan turunan berdasar Rancangan Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) kota Yogyakarta memang mengklasifikasikan gedung-gedung ke dalam golongan-golongan berdasar ketinggian. Peraturan Daerah Kota Yogyakarta No. 24 tahun 2009 tentang Bangunan Gedung pasal 5 poin (f) mengatur bahwa di kota Yogya, perizinan dan zonasi gedung dibagi ke dalam tiga golongan:
  1. Bangunan gedung bertingkat tinggi dengan jumlah lantai 9 (sembilan) sampai dengan 10 (sepuluh) lantai ..

  2. Bangunan gedung bertingkat sedang dengan jumlah lantai 5 (lima) sampai dengan 8 (delapan) lantai,

  3. Bangunan gedung bertingkat rendah dengan jumlah lantai 1 (satu) sampai dengan 4 (empat) lantai.
Nah, Mataram City, sebagai calon gedung tertinggi di Yogyakarta, konon telah mengantongi izin untuk mendirikan gedung 18 lantai. Masuk ke mana klasifikasinya?

Pertanyaan ini bisa dijawab dengan lanjutan poin nomor 1 (bertingkat tinggi) di atas, yakni:
… dan apabila lebih dari 10 (sepuluh) lantai atau ketinggian melebihi ketentuan dalam Dokumen Perencanaan Kota, harus mendapatkan rekomendasi dari Komandan Pangkalan Udara Adisutjipto.

Artinya, pendirian Mataram City dengan kompleks integrasinya setinggi 18 lantai itu bisa diasumsikan telah mendapat “lampu hijau” dari otoritas penerbangan Yogyakarta. Ini di samping hal-hal lain yang mungkin melibatkan lebih dari satu instansi terkait. Dengan kata lain, mulai munculnya gedung tinggi melebihi pemahaman awam maksimal 8 lantai selama ini adalah bentuk penyesuaian atas celah izin yang selama ini belum dimanfaatkan.
Tak berhenti di situ, saya cari-cari informasi lagi ….

Saya berusaha mencari pendapat pakar tata kota untuk menyusuri teka-teki perizinan hotel dan bangunan tinggi komersil lain di Yogyakarta ini. Kemudian dengan bantuan seorang teman, saya mendapatkan kontak tiga pakar tata kota dari UGM. Seorang di antaranya memberi saya jawaban yang masuk akal.

Ir. Gunung Radjiman, M.Sc. adalah dosen Teknik Arsitektur dan Perencanaan di Fakultas Teknik UGM. Posisinya sebagai Ketua Ikatan Ahli Perencanaan DIY memicu saya untuk menggali banyak hal terkait apa yang bisa disampaikan kepada masyarakat terkait persoalan semakin padatnya kota Yogya dengan bangunan komersial.

Saya menghubungi Pak Gun lewat email  berhubung dirinya mengaku sangat sibuk dengan banyak ujian akhir mahasiswa. Setelah mengirim pertanyaan-pertanyaan saya terkait tata kota Yogyakarta dengan perizinannya di mata orang awam, baru hari ini (13/6/2013) balasan surat elektronik itu muncul di komputer saya.

Saya bertanya tiga hal yang sekiranya mewakili suara orang awam yang hanya  melihat kota dan gedung-gedung dari jalanan:

1. Mengapa saat ini di Kota Yogyakarta hotel-hotel mewah dibangun tapi seakan-akan menanggalkan identitas etnis di bangunannya?
2. Mengapa pembangunan gedung-gedung baru (khusus untuk bisnis) di mata awam seperti mudah, perizinannya bagaimana?
3. Apakah mungkin kota Yogyakarta masih bisa seperti dulu, yang teratur, tidak memiliki gedung tinggi di atas 8 lantai, dsb.?

Untuk pertanyaan nomor tiga sekiranya sudah saya temukan jawabannya melalui Perda di atas. Nah, meski demikian Pak Gun rupanya mengetahui apa persisnya yang saya ingin ketahui. Ia menjawab ketiga pertanyaan saya dengan penjelasan yang cukup singkat dan menurut saya bisa menjawab sebagian yang ingin saya tahu.

Kebutuhan Riil kamar
Untuk pertanyaan no. 1 Pak Gun menjelaskan bahwa pembangunan banyak gedung hotel mewah di Yogyakarta adalah upaya para investor untuk menanggapi proyeksi atas permintaan pasar dan potensi kunjungan wisatawan. Hanya saja, lanjut Pak Gun, proyeksi itu sekadar bentuk antisipasi pasar dan mengabaikan kebutuhan riil kamar. Akibatnya, secara ekonomis bangun-dibangunnya banyak kamar hotel didasarkan pada kurva penawaran semata. Ini yang memicu perlombaan desain hotel minimalis dengan menawarkan room rate murah yang kisarannya Rp 200.000 hingga Rp 500.000), kontras dengan desain khas identitas tradisi Yogyakarta yang penuh detil dan ornamen.

Ini sejalan dengan kalkulasi Sultan yang menyarankan pemerintah kabupaten/kota untuk mengikuti ukuran kebutuhan hotel, yakni minimal 80%. Jika sebuah kabupaten di DIY merasa kebutuhan atas hotelnya baru mencapai 40 atau 50 persen saja dan meneken kontrak izin, maka itu akan merugikan semuanya. Manajemen hotel akan kelabakan dengan penawaran yang tak diimbangi tingkat okupansi (tentu saja karena masyarakat sepi minat sementara jumlah hotel lebih banyak). Jalan keluar paling taktis bagi investor dan pengelola hunian adalah mempermainkan tarif kamar.

Untuk pertanyaan no. 2 Pak Gun tidak banyak membahas masalah perizinan selain bahwa memang ada target Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang dikejar pemerintah kota. Namun di sisi lain, ia memberikan pencerahan yang mengejutkan. Menurutnya, fasilitas komersial yang banyak dibangun dari dana investor saat ini kurang disinergikan dengan sistem perencanaan kabupaten sekitar kota.

Hal ini memicu apa yang ia sebut sebagai “dekonsentrasi planologis persebaran fasilitas komersial”. Pemerataan pembangunan menurut fungsi zonasinya cenderung terabaikan oleh egosentrisme yang jadi bagian dari ekonomi kota. Akibatnya bisa dilihat sekarang: keterkaitan budaya kota pusat dan kabupaten di sekitar Yogyakarta mulai renggang. Contoh tepat adalah saat di kota Yogyakarta marak berdiri hotel dan pusat berbelanjaan modern, sementara di Bantul dan dibatasi bahkan ditiadakan.
1371112874291014469
Cuplikan penjelasan Gunung Radjiman melalui email terkait maraknya pembangunan hotel di Yogyakarta. (dok.pri)
Realita perizinan di pemerintah kota Yogyakarta masih terbentur dengan berbagai penyesuaian kebutuhan dan kepentingan. Pak Gun menekankan di jawaban untuk poin no. 3 saya bahwa ditinggalkannya tata budaya (lebih penting dari tata kota) keistimewaan dari kompleks-kompleks komersial bahkan bangunan-bangunan cagar budaya sangat bergantung pada realita perizinan.

Saya sendiri belum berani menerka-nerka apa yang terjadi di dalam Dinas Perizinan kota, sampai masyarakat kadung sedih dengan kesan begitu mudahnya orang berduit membangun gedung-gedung komersil yang tinggi menjulan di tanah kota yang dianggap Istimewa. Meski pada kenyataannya Sultan Hamengkubuwono mengaku sama gerahnya dengan rakyat kota Yogya kebanyakan dengan kota yang semakin padat dan berorientasi bisnis, toh masih ada daftar tunggu untuk perizinan pendirian hotel, mal dan bangunan komersial lainnya.

Saya masih senang berjalan-jalan di kota Yogyakarta pada sore dan jelang malam hari. Udaranya masih sejuk meski sangat polutif di jam-jam sibuk. Persimpangan-persimpangan jalan arteri selalu macet antara pukul 16.00 hingga 19.00. Tak perlu ditebak bagaimana keadaan Malioboro dan sekitarnya di hari-hari puncak musim liburan. Saya bersama warga Yogya seperti Kompasianer Pak Joko Martono yang lewat tulisannya merindukan suasana Yogya yang lengang dan bersahaja.

Saya masih mencari banyak referensi terkait hal ini. Mungkin akan berkonsultasi dengan pakar bangunan bersejarah, berdiskusi dengan komunitas-komunitas pecinta lingkungan hidup, dan pejabat-pejabat tinggi pemerintah kota, sembari menunggu perkembangan berita terkait bagaimana akhirnya nasib kota ini. Kota Yogyakarta, yang lima atau enam tahun lalu dianggap surga.